Kategori: Inspirasi

  • Menanam Setelah Luka: Warisan Teduh dalam Karya Terbaru Setiawan Chogah

    Menanam Setelah Luka: Warisan Teduh dalam Karya Terbaru Setiawan Chogah

    Djawaranews.com  – Ada novel yang berlari, ada yang bergegas, ada yang penuh kejutan. Tetapi Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka memilih jalan lain. Ia duduk. Ia menunggu. Ia mengajak pembacanya berhenti sebentar di bawah pohon, menyimak desir angin, lalu menemukan bahwa jeda adalah bagian dari hidup.

    Setiawan Chogah menghadirkan kisah Raif dan Rangga bukan untuk memaksa simpati, melainkan untuk menunjukkan bahwa luka bisa memilih bentuk lain—menjadi akar yang menguatkan, daun yang memberi teduh, atau bunga yang jatuh dengan wangi.

    Novel ini tumbuh seperti pepohonan di halaman rumah: tidak buru-buru, tetapi perlahan membentuk lanskap yang menenangkan.

    Pohon-pohon sebagai Bahasa Kedua

    Uniknya, setiap bab dalam novel ini disertai pohon atau tanaman. Ada Ficus virens, Plumeria alba, Terminalia catappa, Santalum album, Nepenthes mirabilis, dan banyak lagi. Masing-masing hadir bukan sekadar ornamen, melainkan bahasa.
    Ficus virens, tempat Raif dan Rangga akhirnya berbicara jujur—akar yang memeluk rahasia, batang yang menyediakan teduh.

    Dengan metafora botani ini, Setiawan menegaskan bahwa alam bisa menjadi guru yang lembut. Pohon tidak berteriak, tetapi ia mengajarkan dengan diam.

    Raif dan Rangga: Manusia yang Belajar Pulang

    Novel ini berpusat pada Raif, sosok yang memilih menjadi rumah. Ia tidak ingin menjadi pahlawan, ia hanya ingin menyediakan ruang aman.

    Di sekelilingnya ada Rangga, lelaki berseragam yang menyimpan banyak pergulatan; ada Dinda, yang memilih membuka pintu meski sakit; ada Keira, anak kecil yang dengan kapur menulis kata “pulang”; dan ada tokoh lain seperti Amar dan Ayra, yang membawa kisah mereka masing-masing.

    Pertemuan Raif dan Rangga setelah enam tahun sunyi menjadi inti kisah: bagaimana dua manusia yang terikat cinta, tetapi terhalang realitas, memilih cara lain untuk tetap berarti. Bukan memiliki, melainkan menjaga. Bukan menuntut, melainkan meneduhkan.

    Setiawan Chogah: Dari Esai ke Fiksi yang Hidup

    Nama Setiawan Chogah sudah lama bergaung di ruang-ruang reflektif. Esai-esainya, lirih dan penuh jeda, beredar di banyak media.

    Ia juga menulis tentang finansial, pengembangan diri, hingga keseharian, tetapi selalu dengan gaya bahasa yang pelan dan renungan yang dalam. Banyak pembaca menemukannya sebagai teman di tengah riuh hidup.

    Novel ini adalah langkah kembalinya ke ranah fiksi. Setelah lama menulis esai, Setiawan menyalurkan kepekaannya ke dalam kisah Raif dan pohon-pohon.

    Ia menuturkan cerita dengan napas yang sama: pelan, jernih, penuh hening. Ia menyamarkan detail, tetapi emosi yang hadir berasal dari kenyataan. Seperti ia katakan, novel ini “berutang pada kenyataan” dan kemudian dipotret dalam bingkai fiksi yang terasa sangat nyata.

    Membaca sebagai Ritual

    Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka bukan hanya bacaan, tetapi juga ritual kecil. Setiap bab disertai ilustrasi dan kidung pengantar.

    Pembaca diajak untuk memutar lagu pilihan sebelum masuk ke cerita, agar ritme batin mereka selaras dengan kisah. Cara ini menjadikan membaca tidak sekadar melahap kata, melainkan pengalaman yang mengajak hati duduk dan mendengar.

    Dalam versi digital yang dibagikan di Wattpad, semua elemen ini tersedia dan bisa dinikmati secara cuma-cuma. Setiawan sengaja menghadirkannya gratis, sesuai misinya: membagikan karya sebagai ruang jeda.

    Ia ingin pembaca bisa duduk sejenak, belajar dari pohon, dan tetap waras di dunia yang riuh dan penuh kompetisi.

    Namun, ia juga tengah menyiapkan versi cetak edisi terbatas. Versi ini bukan hanya menyalin teks digital, melainkan menghadirkan aroma kertas, ruang kosong untuk catatan pribadi, serta ilustrasi penuh warna yang lebih hidup.

    Untuk pembaca yang merindukan pengalaman “mencium halaman”, edisi ini menjadi sesuatu yang layak ditunggu.

    Warisan: Menanam setelah Luka

    Akhirnya, Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka bukan sekadar novel. Ia adalah warisan. Setiawan mewariskan gagasan bahwa luka tidak harus menutup, bahwa cinta bisa memilih wujud lain selain memiliki, dan bahwa pohon-pohon adalah guru yang sabar.

    Membaca novel ini berarti ikut menanam. Mungkin bukan pohon secara harfiah, tetapi kebiasaan kecil: menyapa tetangga, menyiram tanaman, mengucapkan kalimat yang tidak melukai. Dari hal-hal sederhana itulah kehidupan bisa kembali bernapas.

    Dan seperti yang ditulis Setiawan, “Pelan juga sebuah kecepatan.” Novel ini membuktikan bahwa pelan bisa menjadi cara kita selamat—sebab yang tumbuh pelan, biasanya berakar lebih dalam.

  • Tasya, Putri 15 Tahun dari Tangsel yang Mengguncang Panggung Dangdut Academy 7

    Tasya, Putri 15 Tahun dari Tangsel yang Mengguncang Panggung Dangdut Academy 7

    TANGSEL – Usianya baru 15 tahun, tapi langkahnya di dunia musik dangdut sudah menginspirasi banyak anak muda. Dialah Anastasya Febrianty Susilo, gadis asal Kota Tangerang Selatan yang kini berhasil menembus 20 besar ajang Dangdut Academy 7.

    Tasya, begitu ia akrab disapa, sudah mengenal dangdut sejak kecil. Meski begitu, ketertarikannya baru benar-benar tumbuh saat duduk dibangku SMP.

    “Aku sih mulai bernyanyi dangdut sejak kecil, namun baru benar-benar menyukainya saat SMP, dan orang tua yang jadi inspirasi aku. Alhamdulillah sekarang, aku bisa masuk ke 20 besar Dangdut Academy 7 ini,” ujar Tasya dengan senyum.

    Perjalanannya menuju panggung Dangdut Academy 7 terbilang mulus namun penuh pembelajaran. Awalnya, ia mendaftar audisi dan berhasil menembus 25 besar. Tak berhenti di situ, Tasya pun bisa dengan mudah lolos dan masuk babak 20 besar.

    Meski mengaku tidak ada tantangan terbesar, Tasya mengakui bahwa mengalahkan rasa takut adalah kunci penting.

    “Namanya tantangan pasti ada ya, tapi yang aku yakini bahwa kita harus berani menghadapi rasa takut yang ada dalam diri sendiri, biar kita bisa tampil percaya diri,” kata dia.

    Tasya bercerita, ada momen unik yang tak ia lupakan saat audisi Dangdut Academy 7 ini. Tasya diminta berpantomim di atas panggung karena para juri tahu ia pernah mengikuti lomba pantomim.

    “Mungkin bisa dibilang ini pengalaman unik, di saat aku disuruh untuk berpantomim di atas panggung, ini karena mereka tau aku pernah mengikuti lomba pantomim,” ceritanya.

    Dalam audisi, Tasya memikat para juri dengan membawakan lagu “Maling” milik Nita Thalia dan “Jera” dari Riza Umami. Penampilannya mendapat sambutan hangat, baik dari juri maupun penonton.

    Dukungan dari keluarga, sahabat, teman-teman, hingga kerabat dan warga Tangsel pun tak main-main. Banyak yang datang langsung ke studio, bahkan menggelar nonton bareng untuk memberikan semangat.

    Ke depan, Tasya ingin terus mengasah bakat, mengejar pendidikan, aktif berkarya di media sosial, dan memperluas kesempatan tampil. Ia pun berpesan agar anak muda Tangsel yang punya impian di dunia musik untuk terus berkarya dan mencoba semua hal yang ada.

    “Jangan pernah takut untuk mencoba dan berkarya, karena kalau kita ingin meraih impian tidak akan berhasil jika diiringi dengan ketakutan,” ucap Tasya.

    Dukung Tasya di Dangdut Academy 7!

    Kamu bisa dukung academia jagoanmu, nonstop dengan kirim virtual gift dengan cara berikut:

    1. Download aplikasi Video

    2. Buka aplikasi Vidio, cari poster D’Academy 7 atau Channel Indosiar, lalu masuk ke tayangan Live.

    3. Buka obrolan, pilih virtual gift, dan tulis pesan ke Academia pilihanmu.

    4. Gunakan coins yang kamu punya, lalu kirim gift untuk Tasya.

    5. Top 3 dari pengirim Virtual Gift terbanyak dan Academia yang menerima virtual gift terbanyak akan diumumkan di akhir acara.

    Dari Tangsel untuk Indonesia, Tasya membawa pesan optimisme bahwa bakat, kerja keras, dan dukungan orang-orang tercinta bisa mengantarkan seseorang berdiri di panggung impian. Kini, giliran kita untuk mendukung dan menjadi bagian dari perjalanan suksesnya. (At)

  • Buku Perjalanan Hidup Margono Djojohadikusumo Diluncurkan

    Buku Perjalanan Hidup Margono Djojohadikusumo Diluncurkan

    Jakarta  – Buku Margono Djojohadikusumo: Pejuang Ekonomi dan Pendiri BNI 1946 karya HMU Kurniadi dan Jimmy S. Harianto resmi diluncurkan Penerbit Buku Kompas di Kompas Institute, Jumat (8/8/2025). Buku ini mengupas perjalanan hidup Margono, yang juga kakek Presiden Prabowo Subianto, sebagai tokoh perintis ekonomi nasional sekaligus pendiri Bank Negara Indonesia pada 1946, menyoroti perannya dalam memperjuangkan kemandirian ekonomi bangsa pasca-kemerdekaan.

    Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutannya menyambut baik peluncuran buku Margono Djojohadikusumo: Pejuang Ekonomi dan Pendiri BNI 1946 karya HMU Kurniadi dan Jimmy S. Harianto untuk menjaga memori kolektif bangsa. Dia juga menegaskan bahwa Margono mewariskan 2 (dua) hal penting bagi bangsa Indonesia yakni BNI 1946 dan Koperasi yang digunakannya sebagai alat perjuangan di bidang ekonomi untuk menopang kemerdekaan Indonesia. “Selamat kepada mas Jimmy dan mas Kurniadi atas bukunya. Semoga ini menjadi bagian yang penting di dalam menjaga memori kolektif bangsa,” kata Fadli..

    Hadir pada peluncuran buku ikonik tersebut, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Fahri Hamzah, Wakil Kepala Staf Presiden Muhammad Qodari, keluarga besar Margono Djojohadikusumo, anggota Komisi IX DPR Achmad Ruyat, Direktur Commercial Banking BNI Muhammad Iqbal dan Komisaris Independen BNI Vera Febyanthy, Staf Khusus Panglima TNI Mayjend TNI Oni Junianto, Staf Khusus Menteri Kebudayaan Muhammad Asrian, pengacara kondang OC Kaligis serta kedua penulis.

    Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah menilai gagasan Margono Djojohadikusumo tentang perbankan nasional yang berpihak pada rakyat sangat relevan untuk menjawab tantangan penyediaan rumah layak dan terjangkau di Indonesia.
    “Margono mengajarkan bahwa lembaga keuangan harus menjadi alat pemerataan kesejahteraan, bukan sekadar mesin keuntungan. Prinsip itu yang kami terjemahkan dalam kebijakan perumahan hari ini, khususnya melalui skema kredit rumah murah,” ujar Fahri.

    Fahri menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh pihak untuk meneladani keberanian Margono dalam membuat terobosan ekonomi. “Kredit rumah murah bukan sekadar program perumahan, tetapi instrumen membangun martabat dan kemandirian rakyat, seperti yang diperjuangkan Margono.”

    Wakil Kepala Staf Presiden (KSP) Muhammad Qodari menilai perjuangan Margono Djojohadikusumo sangat relevan dengan tantangan pembangunan ekonomi Indonesia masa kini. Menurutnya, Margono adalah sosok yang memahami bahwa kedaulatan ekonomi tidak bisa bergantung pada kekuatan asing, melainkan harus dibangun dengan kekuatan dan sumber daya bangsa sendiri. “Margono tidak hanya pendiri Bank Negara Indonesia pada 1946, tetapi juga penggagas sekaligus pelaksana pencetakan uang pertama Republik Indonesia. Di tengah keterbatasan dan ancaman pasca-proklamasi, beliau berani mengambil langkah strategis yang menjamin peredaran uang kita bebas dari kendali kolonial,” ujar Qodari.

    Ia menekankan bahwa pencetakan Oeang Republik Indonesia (ORI) adalah langkah monumental yang memantapkan kedaulatan bangsa di bidang moneter, sejalan dengan visi pembangunan ekonomi yang berdikari. Qodari juga mengusulkan agar Margono Djojohadikusumo diakui secara resmi sebagai Bapak Uang Republik Indonesia, mengingat jasanya dalam memimpin proses pencetakan dan distribusi ORI.
    “Seperti halnya para pejuang di medan tempur, Margono berjuang di medan ekonomi. Menghadirkan uang Republik bukan hanya soal transaksi, tetapi soal harga diri dan kemerdekaan. Saya kira layak jika negara memberi penghormatan formal sebagai Bapak Uang Republik Indonesia,” tambahnya.

    Mora Dharma Silitonga yang mewakili keluarga besar Margono, menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas penerbitan buku ini. “Eyang kami selalu mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan bukan harta pribadi, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat diberikan untuk rakyat,” ungkapnya.

    Direktur Commercial banking BNI Muhammad Iqbal mengungkapkan, ada satu statement Margono menjadi inspirasi bagi BNI di tahun 1946 bahwa bangsa ini butuh bank sendiri bukan hanya untuk menghitung uang tetapi untuk menyusun harga diri. “Saya merinding bacanya karena ini suatu kata-kata yang membuat kami di BNI sebagai bank pertama oleh republik ini untuk terus mampu bertahan untuk menghadapi dinamika perjalanan bangsa hingga hari ini,” kata Iqbal.

    Penulis HMU Kurniadi mengungkapkan riset buku ini memakan waktu lebih dari satu tahun, mencakup penelusuran arsip sejarah dan wawancara dengan berbagai pihak. Jimmy S. Harianto menambahkan, semangat Margono yang menolak ketergantungan pada kekuatan asing menjadi pesan penting bagi generasi sekarang.

    Wakil Pemimpin Umum Kompas Paulus Tri Agung Kristanto yang akrab disapa Mas Tra mengungkapkan, Buku Margono Djojohadikusumo: Pejuang Ekonomi dan Pendiri BNI 1946 dapat menjadi salah satu sumber rujukan penting mengenai peran strategis para founding father meletakkan pondasi perekonomian pada era kemerdekaan. “Pak Margono adalah penggerak perekonomian Indonesia saat itu,” katanya.

    Peluncuran buku ini dihadiri akademisi, sejarawan, ekonom, peneliti, mahasiswa, dan masyarakat umum dan diakhiri dengan penandatanganan buku dan sesi foto bersama. Suasana peluncuran memadukan diskusi akademis dengan nuansa emosional mengenang jasa seorang tokoh bangsa. Buku kini tersedia di toko buku seluruh Indonesia dan platform daring.

  • Ketum AMKI Tundra Meliala Diangkat Jadi Keluarga Keraton Surakarta

    Ketum AMKI Tundra Meliala Diangkat Jadi Keluarga Keraton Surakarta

    Surakarta – Sebuah peristiwa penting dan bersejarah terjadi di Sasono Nalendro, kediaman resmi Raja Surakarta SISKS. Pakoe Boewono XIII, pada Jumat (25/7/2025).

    Ketua Umum (Ketum) Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI), Tundra Meliala, menerima langsung anugerah gelar kehormatan dari raja sebagai bentuk penghargaan atas kiprahnya dalam dunia media dan pelestarian nilai-nilai kebudayaan bangsa.

    Dengan prosesi adat yang berlangsung secara tertutup dan khidmat di jantung kediaman raja, Tundra kini resmi menyandang gelar Kanjeng Raden Ario (KRA). Sejak saat itu, namanya tercatat sebagai KRA. Ir. Tundra Meliala Wartonagoro, MM., dan menjadi bagian dari keluarga besar Keraton Surakarta.

    “Saya sangat bersyukur dan merasa mendapat amanah mulia. Gelar ini bukan sekadar kebanggaan pribadi, tetapi bentuk tanggung jawab budaya. Saya akan terus menjadikan media sebagai alat pencerdas bangsa yang tetap menghargai akar tradisi,” ungkap Tundra dengan penuh haru usai penobatan.

    Penganugerahan gelar ini merupakan bentuk pengakuan dari pihak keraton terhadap dedikasi dan integritas Ketum AMKI yang dinilai mampu menjembatani dunia modern, khususnya media digital, dengan nilai-nilai adat dan budaya lokal.

    KRA. Samsul A. Wijoyonagoro, juru bicara resmi Karaton Kasunanan Surakarta, menegaskan bahwa proses pemberian gelar ini telah melalui pertimbangan adat yang ketat serta diskusi internal yang mendalam di lingkungan keraton.

    “Ini bukan hanya soal kehormatan, tapi juga tentang harapan. Beliau adalah sosok pemimpin media yang berpikir kebangsaan dan menjunjung tinggi budaya. Gelar ini adalah bentuk penghormatan dari raja atas dedikasi beliau,” ujar KRA. Samsul.

    Gelar KRA dalam adat Keraton Surakarta tidak diberikan secara sembarangan. Hanya individu yang dinilai memiliki jasa luar biasa, baik terhadap bangsa maupun Keraton, yang bisa mendapatkannya.

    Dalam konteks ini, Ketum AMKI dipandang sebagai mitra strategis Keraton dalam membangun jembatan komunikasi budaya dan identitas bangsa melalui media.

    Kini, KRA. Tundra Meliala bukan hanya dikenal sebagai pemimpin asosiasi media nasional, tetapi juga sebagai bagian dari bangsawan kehormatan yang memikul tanggung jawab budaya.

    Momen ini menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus konvergensi media dan digitalisasi, semangat pelestarian nilai-nilai luhur tidak boleh ditinggalkan. (Trg)

  • Program SILAU Kantor Imigrasi Tanjung Balai Karimun Diapresiasi Masyarakat

    Program SILAU Kantor Imigrasi Tanjung Balai Karimun Diapresiasi Masyarakat

    Tanjung Batu, P. Kundur, Djawaranews.com  – Petugas Kantor Imigrasi Kelas II TPI Tanjung Balai Karimun lakukan layanan ‘jemput bola’ melalui program SILAU (Imigrasi Antar Pulau) di pulau-pulau wilayah Kabupaten Karimun.

    Program SILAU (Imigrasi Antar Pulau) merupakan salah satu inovasi yang dilakukan pihak Kantor Imigrasi Kelas II TPI Tanjung Balai Karimun dalam memberikan kemudahan bagi masyarakat yang mengajukan permohonan untuk dapat menggunakan paspor RI.

    Kali ini, pegawai Imigrasi Karimun mengunjungi Tanjung Batu, Pulau Kundur untuk memberikan pelayanan keimigrasian dengan memproses pengajuan permohonan paspor RI.

    Saat ditemui, Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Tanjung Balai Karimun, Dwi Avandho Farid mengatakan Program SILAU (Imigrasi Antar Pulau) tersebut implementasi dari pelayanan prima _(service excellent)_ kepada masyarakat pemohon Paspor RI yang berdomisili di pulau yang berbeda dengan Pulau Karimun Besar, dimana Kantor Imigrasi berlokasi.

    “Program SILAU ini merupakan inovasi Kantor Imigrasi Tanjung Balai Karimun untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat yang ingin mendapatkan Paspor RI,” kata Farid. Selasa, (06/05/25).

    “Melalui program ini, kami melakukan layanan ‘jemput bola’ mengingat wilayah Kabupaten Karimun terdiri dari beberapa pulau. Sehingga secara periodik, kami jadwalkan pelayanan proses permohonan Paspor RI ke pulau-pulau di wilayah kerja Kantor Imigrasi Tanjung Balai Karimun,” lanjutnya.

    Sementara itu, terkait Program SILAU (Imigrasi Antar Pulau) Kantor Imigrasi Tanjung Balai Karimun ini mendapat apresiasi dari masyarakat pemohon Paspor RI di Tanjung Batu, Pulau Kundur.

    Salah satunya Hermanto. Ia mengaku sangat terbantu dengan adanya Program SILAU (Imigrasi Antar Pulau) Kantor Imigrasi Tanjung Balai Karimun tersebut.

    “Terimakasih saya ucapkan kepada Kantor Imigrasi Tanjung Balai Karimun, karena dengan adanya program SILAU ini saya sangat terbantu,” katanya.

    Hal senada juga dikatakan Yani. Ia mengaku dengan adanya Program SILAU (Imigrasi Antar Pulau) Kantor Imigrasi Tanjung Balai Karimun sangat membantu dirinya dalam membuat paspor.

    “Program SILAU ini sangat membantu dan menghemat waktu, sehingga saya tidak perlu jauh-jauh pergi ke Kantor Imigrasi di Pulau Karimun Besar. Untuk itu, saya mengucapkan terimakasih kepada Kantor Imigrasi Tanjung Balai Karimun,” ucapnya.